Jubah Sang Khalifah

Kaum muslimin telah berkumpul di dalam Masjid Nabawi. Setelah melihat kaum muslimin telah memenuhi Masjid, Khalifah Umar segera naik ke atas mimbar untuk menyampaikan berita penting.

“Segala puji bagi Allah, Amma ba’du… Dengarkan wahai kaum muslimin! Semoga Allah melimpahkan rahmat untuk kalian.”

Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri. Beberapa laki-laki yang berada di sampingnya terkejut, mereka melirik si laki-laki pembuat onar itu. Ternyata laki-laki itu adalah Salman Al-Farisi, sang pahlawan perang Khandaq.

“Demi Allah, saya tidak akan mendengarnya. Demi Allah, saya tidak akan mendengarnya.” Teriak Salman.

Khalifah Umar terkejut mendengar ucapan Salman itu. Dia lalu bertanya, ” Kenapa kau tidak mau mendengarnya, wahai Abu Abdullah?”

“Wahai Amirul Mukminin. Anda menghiasi diri Anda dengan dunia melebihi kami, Anda memberi setiap orang baju satu, sementara Anda mengambil dua baju.”

Khalifah Umar tersentak mendengarnya. Dia memeriksa satu persatu shaf kaum muslimin.

“Dimana Abdullah bin Umar?” Tanya Khalifah Umar mencari putra pertamanya itu.

“Saya di sini, wahai Amirul Mukminin” Jawab Abdullah bin Umar seraya berdiri.

Begitu melihat Abdullah, Khalifah Umar langsung bertanya, “Siapa pemilik baju kedua ini, wahai Abdullah?”

“Saya, Wahai Amirul Mukminin” Terang Abdullah.

“Wahai kaum Muslimin! Seperti yang kalian ketahui, aku ini adalah seorang laki-laki jangkung, sedang baju yang menjadi jatahku sangat pendek. Kemudian Abdullah memberikan baju yang menjadi jatahnya kepadaku. Sehingga dengan baju itu aku dapat memanjang­kan ukuran bajuku.” Jelas Khalifah Umar.

Mendengar penuturan Umar tersebut, Salman sangat terharu. Dia sungguh tak menyangka bahwa baju itu adalah baju pemberian Abdullah, putra Khalifah Umar sendiri.

Tak terasa kedua matanya basah oleh air mata. Dengan terisak dia berkata, “Segala puji bagi Allah, sekarang silahkan Anda berbicara. Saya akan mendengarkan dan melaksanakannya, Wahai Amirul Mukminin”