Kisah Abu Bakar Ash-Shuli, Ulama Sekaligus Grandmaster Catur

Jika harus menyebut permainan otak yang merasuk hampir di seluruh kebudayaan, maka jawaban pertama saya adalah catur. Catur memang permainan kuno yang mengglobal. Mengenai asal-usulnya, H. J. R. Murray dalam History of Chess mengajukan sebuah hipotesis bahwa catur adalah permainan yang berasal dari India. Kemudian dari India catur menyebar salah satunya melalui Persia. Hipotesis ini bertahan hingga saat ini.

Salah satu fase perkembangan catur yang terpenting adalah saat “Pembebasan Muslim” menyentuh tanah Persia. Mau tidak mau budaya Persia terserap dan orang muslim pun turut serta mengembangkannya. Di antara budaya yang tak boleh terlewatkan untuk dianalisa adalah catur.

Dalam bahasa Arab catur disebut shathranj, sebuah serapan dari kata Persia catrang. Murray dalam bukunya menulis bahwa catur dan dunia Islam berhubungan “secara malu-malu”. Banyak keputusan hukum (fikih) Islam yang cenderung ‘mendorong’ catur keluar dari percaturan kehidupan, dengan cara memvonis makruh, menghilangkan ‘ adalah (kredibilitas) pemainnya, bahkan haram.

Namun demikian, Murray mengutip dari sebuah naskah berjudul Nashihah lil Hurr wal ‘Abd bi Ijtinabi Shathranj wan Nard karya al-Qabuni bahwa ada banyak nama-nama beken dalam dunia keilmuan Islam yang sangat lihai memainkan catur. Bahkan nama-nama yang tidak terduga seperti Imam Syafi’i, Malik, atau Ibnu Sirin adalah ‘pemain catur handal dan bisa memainkannya dengan mata tertutup’. Buku karya al-Qabuni yang dikutip Murray sangat sulit untuk ditelusuri karena belum pernah dicetak.

Namun di antara semua nama itu ada satu nama yang paling masyhur dan disepakati sebagai pecatur profesional, yakni Abu Bakar As-Shuli. Shuli adalah pecatur termasyhur dalam sepanjang sejarah Islam. Di samping pecatur profesional, dia juga sejarawan dan sastrawan ternama. Saya pribadi mengetahui Shuli sejak lama sebagai sejarawan yang sering dikutip Ibnul Jawzi atau Ibnu Katsir.

Saking masyhurnya permainan catur Shuli, Mas’udi dalam Muruj Dzahab mencatat bahwa Raja Radhi Billah dari Dinasti Abbasiyah suatu hari berjalan melewati kebun yang indah. Dia kemudian menanyakan kepada pengawalnya bahwa ‘apakah kalian pernah melihat yang lebih bagus dari ini?’ Pengawalnya menyebut bahwa kebun dari berbagai macam kota lain lebih indah dari kebun ini. “Tidak,” ujar Raja Radhi Billah. “Demi Tuhan, permainan catur Shuli jauh lebih indah dari kebun ini maupun kebun yang kalian ceritakan.”

Mas’udi menceritakan bahwa Shuli pernah ditantang oleh Raja Muttaqi Billah untuk mengalahkan seorang pecatur profesional bernama Mawardi (bukan Imam al-Mawardi ulama fikih terkenal). Raja Muttaqi pada awalnya menjagokan Mawardi (yang mana nama ini secara harfiah berarti air mawar). Namun melihat Mawardi terdesak dan akhirnya kalah, Raja Muttaqi Billah berkata kepada kepada Mawardi: “ Loh kok air mawar menjadi air kencing?”

Dalam permainan catur Shuli memiliki seorang murid yang tak kalah hebat bernama al-Lajlaj. Nama Lajlaj ini konon sangat terkenal dalam folklore Persia sebagai pecatur handal. Permainan catur antara Shuli dan Lajlaj disebut sebagai salah satu permainan catur pertama yang terekam dalam sejarah.

Bahkan lebih dari itu, Shuli membuat sebuah teka-teki yang dia beri nama “permata Shuli” ( Shuli’s diamond; jauharat Shuli ). Shuli sesumbar bahwa teka-teki ini tidak akan bisa terungkap kecuali oleh orang-orang yang pernah ia ajari. Teka-teki ini baru terungkap seribu tahun kemudian oleh grandmaster Rusia kelahiran 1922 bernama Yuri Averbakh.

Yang perlu diperhatikan adalah perbedaan yang ada di dalam catur abad pertengahan dengan catur modern: menteri (dinamakan firzan ) berjalan diagonal satu kotak, gajah (dinamakan fil) berjalan diagonal dua kotak. Selain dua buah catur ini, sisanya melangkah sama seperti catur yang kita kenal sekarang.