Dakwah KH. Zainuddin MZ : Teman Setan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده ، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وعلى آله وصحبه ومن والاه ، لا حول ولا قوه إلا بالله ، أما بعد :

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, seperti kita maklum bahwa Allah Swt. Menciptakan manusia dan jin untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Manusia yang ingkar terhadap perintah ini dinamakan dengan orang-orang kafir. Sedangkan jin yang mengingkari perintah ini dinamakan dengan setan atau syaithan dalam bahwa Quran-nya. Kemudian dalam perkembangannya jin-jin yang kafir yang dinamakan setan ini bersekongkol dan menjadi bala tentaranya iblis untuk menggelincirkan manusia dengan berbagai macam cara dan jalan dari hal-hal yang diridhai oleh Allah Swt. Adapun yang namanya iblis pada hakikatnya cuma satu saja, yaitu yang ingkar kepada perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam as. Iblis inilah yang kemudian menjadi sesepuh, biang, atau dedengkotnya para setan. Seluruhnya akan tunduk kepada komando iblis, akan taat dan setia kepada perintah iblis untuk mencari teman yang sebanyak-banyaknya guna menemani mereka di neraka nanti. Maka mereka pun melakukan satu proklamasi yang bisa kita baca dalam surat al-A’raf ayat 16 dan 17 dimana iblis dengan tegas menyatakan,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (١٦)

Wahai Allah,” kata iblis, “dari sebab Engkau telah menghukum saya. Dari sebab Engkau telah mengusir saya dari surga, maka saya berjanji akan menipu, akan menggelincirkan mereka, Adam dan keturunannya dari jalan-Mu yang lurus.

Apa jalan yang lurus? Tidak lain Islam ini. Dengan segala cara dan jalan iblis dan bala tentaranya akan berusaha menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus. Caranya bagaimana? Ayat ke-17 menjawab,

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (١٧)

Akan kami datangi mereka, akan kami goda mereka, dari arah sebelah depan. Kalau cara itu tidak kena, kami goda mereka dari sebelah belakang. Andaikata cara itupun tidak mempan, dari arah sebelah kanan. Kalaupun itu gagal, kami akan datang dari arah sebelah kiri. Pendeknya dari empat penjuru angin iblis dan seluruh bala tentaranya yang bernama setan belum akan puas sebelum kita tergelincir dari jalan yang lurus yang diridhai oleh Allah Swt.

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa jika iblis menggoda dari arah depan, yang dimaksud dari depan ini adalah dunia, sehingga menusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dari seluruh kegiatan hidupnya. Ia pergi pagi pulang sore, peras keringat, banting tulang, tidak ada yang dikejar kecuali dunia dan cuma untuk kepentingan dunia. Dunia yang membuat orang berpaling daripada akhirat, dunia yang membuat orang lupa kepada tujuan penciptaannya. Maka dunia termasuk perangkap iblis. Apa isi dunia? Biasanya yang lazim 3 ta; harta, tahta, wanita. Itu yang bikin orang jadi sibuk sampai lupa kepada tujuan penciptaannya. Untuk apa dia diciptakan oleh Allah? Kami goda mereka dari arah depan dengan menyodorkan dunia dalam bentuk yang hijau ranau, dunia dalam bentuk yang manis sehingga mereka tenggelam di dalamnya lalu melupakan akhirat. Kalau cara itu juga tidak kena, kami datang dari sebelah belakang. Kami lupakan mereka kepada akhirat. Itu mah urusan nanti bagaimana saja. Yang penting yang kita hadapi sekarang. Apa? Dunia. Akhirat kita belum tahu, dan bahkan belum tentu ada. Yang sudah pasti saja kita garap. Melupakan akhirat.

Yang dimaksud dari arah sebelah kanan, iblis dan setan selalu menghalang-halangi manusia untuk berbuat kebaikan. Karena kanan adalah lambang kebajikan. Sedangkan kiri adalah lambang kejahatan. Dicegahnya kita berbuat kebajikan dan dibisikkannya kita untuk selalu melakukan kejahatan dan kemungkaran. Dan akan kamu dapati sedikir sekali di antara manusia yang bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan kepada mereka.

Ditanamkan rasa ingkar kepada nikmat. Jika kita tidak kufur iman, dibuatnya kufur nikmat. Mengeluh, padahal hidup sudah serba cukup. Merasa masih sangat kurang, padahal orang lain sudah titik air liurnya melihat keadaan kita. Sedikit sekali di antara mereka yang pandai bersyukur kepada nikmat yang telah Engkau berikan itu, ya Allah. Jadi untuk ingkar nikmat, bisikan selalu datang dari iblis. Coba lihat itu, temanmu yang tidak pernah shalat, rizkinya lancar. Kamu berhenti saja shalat. Yang tidak pernah ke masjid pangkatnya naik terus. Udah berhenti saja ke masjid. Atau setidak-tidaknya mengeluh dalam hati, Tuhan kayaknya tidak adil, kenapa saya rajin shalat kok rizki seret bener? Padahal pada dasarnya kalau kita mau berpikir dalam bentuk yang paling mendasar, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Jika bigini keadaan kita, inilah yang terbaik buat kita menurut pertimbangan Allah. Jika kita menuntut lebih lagi, mungkin dengan keadaan yang lebih itu kita bisa tergelincir dan Allah lebih tahu itu. Sebagai Pencipta manusia Allah lebih tahu tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa didapat dan dicapai oleh manusia. Bahasa ringannya, rizki loe segini aja deh, loe jadi rajin shalat. Kalau rizki loe berlebihan, jadi orang kaya dikit, nanti melihat masjid minggir. Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita.

Saudara-saudara kaum Muslimin, adapun iblis dan setan sudah menyadari betul bahwa iblis dan setan tempatnya di akhirat nanti jelas di neraka. Itu mereka sudah sadari betul. Maka yang mereka kepingin sekarang, bagaimana mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menemani mereka di neraka nanti. Inilah yang menyebabkan mereka berjibaku betul. Bahkan ada satu riwayat, ada waktu-waktu tertentu dimana para setan ini laporan kepada iblis. Kalau ada yang laporan gagal, bukan main marahnya si iblis ini selaku komandan. Kata setan, “Pak, saya gagal menggoda si fulan karena imannya kuat.” “Goblok kamu!” “Dengan apa kamu goda dia?” “Dengan kedudukan.” “Dia tidak mau?” “Tidak mau.” Tempuh dengan jalan lain, barangkali dengan harta. Kalau dengan harta tidak bisa, barangkali dengan wanita. Kalau dengan wanita tidak bisa, tempuh segala macam cara. Dan mereka yang laporannya enak, artinya berhasil menggoda banyak orang beriman, itu kondite-nya naik. Bahkan, mendapat semacam piagam penghargaan sebagai kader militan daripada iblis. Mereka berusaha dengan segala macam cara mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya. Kalau mereka sendiri sudah tahu pasti, sadar, nasib saya di akhirat nanti pasti masuk neraka, diazab dan disiksa oleh Allah. Cuma saya begini ini lantaran ulahnya Nabi Adam dulu. Maka anak-anak cucu Nabi Adam harus menjadi teman-teman saya sebanyak-banyaknya guna menemani saya di dalam neraka. Oleh karena itu pada kesempatan pertemuan saat ini kita akan membicarakan siapa sih teman-teman setan itu.

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih bahwa pada suatu hari iblis diperintahkan oleh Allah untuk datang kepada baginda Rasulullah Saw. dan menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh baginda Nabi. Datang iblis dalam bentuk orang tua pakai tongkat. Jadi iblis itu bisa malih warna. Dia termasuk jenis makhluk halus, termasuk jin dan malaikat. Itu bisa malih warna sesuai dengan mereka kehendaki. Ketika datang, baginda Nabi bertanya,

من أنت ؟

Siapa kamu?

Dia jawab,

أنا إبليس

“Saya iblis.”

Jujur.

لماذا جئت ؟

“Mau apa kamu datang kemari?” kata baginda Nabi. Dijawab oleh iblis,

إن الله أمرني أن آتيك وأجيبك عن كل ما سألتني

“Allah memerintahkan saya untuk datang kepadamu dan menjawab segala pertanyaan yang engkau ajukan kepada saya.”

Atas pertanyaan ini baginda Rasul kemudian bertanya dengan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama,

إبليس ، كم إخوانك من إمتي ؟

“Ada berapa sih teman-temannu dari golongan umatku?”

Dari golongan umatku, umat Islam ini, bukan orang lain. Kalau orang kafir sih sudah jelas itu memang cs-nya iblis. Tapi, dari umatku. Siapa saja yang jadi teman-teman kamu iblis? Menjadi antekmu, menjadi alatmu, sejak dari dunia sampai ke neraka nanti. Atas pertanyaan ini iblis menjawab, “Teman-teman saya dari golongan umatmu, ya Muhammad,

عشر

“ada sepuluh orang.”

Ada sepuluh orang yang merupakan teman-teman iblis dari dunia sampai ke neraka. Siapa mereka? Pertama, kata iblis, teman saya,

حاكم جائر

“Hakim yang curat.”

Hakim yang tidak adil. Ini bisa dimaklumi. Kenapa? Karena hakim diharapkan adalah produk keadilan. Sehingga orang mengatakan, seorang hakim adalah seorang yang meletakkan sebelah kakinya di surga dan sebelah lagi di neraka. Kalau adil dia menghukum, kaki sebelah kanan yang akan menentukannya ke surga. Kalau licik dia menghukum, kaki sebelah kiri yang akan menjerumuskan dia ke dalam neraka.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, sesungguhnya dalam kehidupan kurangnya sandang pangan bukan satu-satunya sebab yang membuat orang menderita. Tidak teraturnya perumahan, kurangnya lapangan kerja, bukan satu-satunya yang menyebabkan rakyat menderita. Tapi lukanya rasa keadilan, tidak tegaknya hukum sebagaimana yang diharapkan. Itu juga bisa menjadi sumber nestapa, bisa menjadi asal dari segala derita. Oleh karena itu, hakim yang tidak adil, hakim yang curang, yang menghukum tidak berdasarkan hukum. Tapi berdasarkan kepentingan, berdasarkan pesan sponsor, hukum bisa dibeli, ada istilah mafia peradilan. Hakim-hakim macam ini yang akan menjadi teman-teman iblis. Dan tiap kali palu akan diketuk iblis sudah bukan main sibuknya. “Kekuasaan di tanganmu. Hijau katamu, hijau yang akan berlaku. Merah kau ketok, merah yang akan jadi keputusan. Orang lain tidak tahu. Ini kesempatan untuk jadi kaya. Ini kesempatan untuk naik pangkat. Manipulir hukum tidak ada yang tahu karena orang banyak yang awam dengan hukum.”

Saudara-saudara kaum Muslimin, kalau hukum sudah bisa dibeli atau kalau hukum cuma untuk orang-orang kecil saja, ada kelompok-kelompok yang kebal hukum, maka akan timbullah kiamat di masyarakat di mana yang kuat makin kuat, yang lemah selalu menjadi mangsa. Oleh karenanya hakim yang serong, hakim yang durjana, merupakan teman-teman setan, merupakan teman-teman iblis dari dunia sampai ke neraka nanti. Ini yang pertama. Oleh karenanya pada dasarnya setiap kita adalah hakim, untuk keluarga, dalam pergaulan, hendaklah adil di dalam memutuskan segala sesuatu, lebih-lebih hakim yang memang menjadi pengayom masyarakat. Bukankah lambang para hakim digambarkan dalam bentuk neraca yang berimbang? Tidak berat ke kiri, tidak juga berat ke kanan. Dalam arti objektif memberikan keputusan sesuai dengan hukum sehingga masyarakat terlindungi. Dan hakim yang adil secara praktis adalah musuh daripada setan. Dimana pun setan dan iblis paling gak demen dengan hakim yang adil. Itu merupakan musuh besar bagi setan. Yang menyalahkan yang salah, membenarkan yang benar, walaupun yang salah orang besar, yang benar orang kecil. Dan kita memang oleh baginda Nabi diajarkan satu doa,

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami bahwa yang benar itu benar.” Sebab sering kita lihat yang benar jadi tidak benar. Ini memerlukan kekuatan batin. Yang benar tampakkan kepada kami benarannya, ya Allah. Sebab sekarang banyak ketidakbenaran yang dikamuflase, banyak ketidakbenaran yang diberikan lipstik, sehingga kelihatannya menjadi benar. Ini baik doa ini saya pikir dibaca oleh para hakim.

اللهم أرنا الحق حقا

“Ya Allah, perlihatkan kepada saya bahwa yang benar itu benar.”

Dan tidak cuma sekedar itu,

وارزقنا اتباعه

“Berikan kekuatan kepada saya untuk mengikuti kebenaran itu.”

Sebab kadang-kadang terjadi juga dia tahu yang benar itu benar, tapi tidak punya keberanian moril untuk mengatakan bahwa itu benar. Dia tahu itu barang yang hak, tapi tidak terpanggil mengikuti yang hak, tidak punya kekuatan moril untuk mengikutinya. Lalu doa ini pun disambung,

وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه .

“Wahai Allah, perlihatkan kepada kami bahwa yang batil adalah batil, bahwa yang salah adalah salah, bahwa yang mungkar adalah mungkar, berikan kepada kami kekuatan untuk menjauhi yang mungkar, yang batil, yang zalim.”

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, kita sering mencaci kaum pelacur sebagai sampah masyarakat. Tapi sadarkah kita bahwa pelacuran di bidang hukum, pelacuran di bidang intelektual, kadang-kadang pelacuran di bidang agama, dalam arti menjual ayat untuk membela yang salah dan menekan yang benar, ini juga tidak kalah bahayanya dengan prostitusi, pelacur-pelacur yang kita anggap sebagai sampah daripada kehidupan masyarakat itu. Oleh karenanya, maka hakim yang adil merupakan musuh utama daripada iblis dan setan. Mereka akan sibuk sekali, kalau seorang hakim sudah berketetapan untuk melahirkan keputusan hukum yang seadil-adilnya. Ini yang pertama. Teman setan adalah hakim yang menyeleweng, yang tidak adil.

Yang kedua, teman saya, kata iblis,

غني متكبر

“Orang kaya yang sombong.”

Orang kaya sombong itu teman setan. Orang miskin sombong itu lebih teman lagi tuh. Sebab ini sudah kelewatan. Kalau orang kaya sombong barangkali ya, barangkali masih lumayan lah, orang kaya. Tapi kalau sudah miskin, sombong, minta ampun. Orang kaya yang sombong adalah musuh iblis. Sebab pada hakikatnya tidak ada yang kaya dalam kehidupan ini, kalau sudah bercermin pada apa sih yang kita punya. Nabi Sulaiman karena merasa menguasai antara masyriq dan maghrib, satu hari pernah mohon izin kepada Allah, “Ya Allah, saya mohon izin kepada-Mu untuk memberikan makan kepada seluruh makhluk-makhluk-Mu sekedar satu hari saja.” “Baik.” Satu hari Nabi Sulaiman mau menjamin menanggung makannya semua makhluk. Karena merasa kaya. “Baik,” kata Allah. Lalu sibuklah Nabi Sulaiman mengadakan persiapan. Seluruh bala tentaranya, jin, binatang, dikumpulkan, mengumpulkan makanan yang sebanyak-banyaknya diatur di satu lapangan yang sangat luas. Sebab ini yang mau makan tentu tidak sedikit. Sudah selesai persiapan. Kata Allah, “Sudah selesai, Sulaiman.” “Sudah, ya Allah.” Aku mulai dari makhluk-Ku yang paling di bawah, ikan. Ikan Nun dipanggil oleh Allah. “Rizkimu hari ini mau ditanggung Sulaiman. Naik, makan.” Naik ikan Nun. Sekali makan seluruh persiapan habis. Goleng kepala Nabi Sulaiman. Beliau sadar lalu sujud. “Maha Kaya Engkau, ya Allah.” Boro-boro nanggung makanan semua makhluk hidup sehari. Ikan satu ga keurusan. Ini baru sekali makan, bagaimana nambahnya? Jadi, apa sih yang kita anggap kaya ini? Maka orang kaya yang sombong pada hakikatnya kacang yang lupa akan kulitnya. Tidak ada yang kita bawa pada saat kita terlahir ke alam ini. Sebagaimana juga tidak ada yang kita bawa pada saat kita meninggalkan alam ini. Harta kita akan pindah nama. Sebab itu yang perlu kita jaga pada hakikatnya tidak lain nilai-nilai iman sebab ini yang akan kita bawa. Cuma ironinya, karena iman itu abstrak, bukan benda, orang yang kehilangan iman tidak pernah ribut. Sebaliknya karena harta itu materi, benda kongkrit, orang yang kehilangan harta, cepet merasa, cepet ribut. Motor hilang, ribut. Kenapa? Motor itu benda, kelihatan. Duit hilang, ribut. Televisi hilang, ribut. Kenapa? Benda. Tapi, kalau iman yang hilang, wah kelihatannya tenang-tenang saja, bah. Padahal ini usaha iblis bagaimana orang kehilangan iman, menjadi kafir, masuk grup dia, untuk menemani dia di dalam neraka nanti. Dia gelincirkan iman kita dan kita sering tanpa terasa telah mengalami pergeseran nilai-nilai iman, kalau tidak tergusur sama sekali. Cuma saya katakan tadi, oleh karena iman ini bukan benda, orang yang kehilangan iman kurang begitu merasa. Padahal ini yang paling berharga, sebab ini yang akan kita bawa menghadap Allah. Orang itu kalau sudah yakhruju minad dunya bi ghairi iman, keluar dari dunia, meninggalkan dunia dan seluruh isinya kembali menghadap Allah dengan tidak membawa iman, tempatnya jelas sudah. Itu yang paling kita khawatir. Pangkat jelas tidak kita bawa. Harta benda akan pindah nama jadi milik ahli waris kita. Tiba-tiba iman yang cuma satu itu tempat kita bergantung hilang juga dari diri kita, dengan apa kita mau menghadap Allah dan kemalangan apa yang lebih besar dari orang-orang yang telah kehilangan iman pada saat dia menghadap Allah Swt.? Karena itu saudara-saudara, terutama yang diberikan amanah berupa harta oleh Allah dalam kehidupan ini, bersyukurlah kalau saudara diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menyalurkan rizki kepada orang lain seperti keran yang nyimpen air tapi tidak untuk dirinya, disalurkan kepada yang memerlukannya. Rizki dia, cuma lewat tangan saya. Berbahagilah orang kalau dipercayai Allah untuk menyalurkan rizki kepada orang lain. Artinya, agen. Wong ditunjuk jadi agen Allah kok ga bangga. Kalau sudah kemari cara berpikir, insya Allah rasa bakhil bin pelit alias medit bin koret, itu insya Allah ga ada. Kan kadang kita perpikir, “Yang nyari duit gue setengah mati, loe dateng-dateng mau minta aja, kepala loe.” Kan itu toh kadang-kadang cara kita berpikir. Boleh jadi, lalu terasa berat. Tapi kalau kembali kepada kesadaran, “Barangkali, alhamdulillah. Rizki dia. Cuma lewat tangan saya. Kalau saya ga ngasih dia, barangkali ga semudah ini saya dapat rizki. Allah mudahkan rizki saya karena saya membantu orang-orang yang memang memerlukannya. Andaikata saya tidak membantu mereka, belum tentu rizki selancar ini.” Tidak lalu, “Enak aja, peras keringat gua, banting tulang, pergi pagi pulang sore, loe dateng-dateng nadah aja.” Berbahagialah orang sekali lagi, kalau dia dijadikan agen oleh Allah untuk menyalurkan rizki kepada mereka yang memang memerlukannya. Kalau tidak ke arah itu kita perpikir, yang timbul bakhil. Bakhil lalu bermegah-megah dengan hartanya, timbul kesombongan. Seneng lihat orang susah. Lalu dia sendiri dengan hartanya cuma to show only, pameran. Lewat di kampung seneng kalau orang melotot melihat mobilnya yang serba mengkilap, sepatunya yang serba mahal, seneng kalau wah semua gaya hidupnya serba jetset. Wah, wah, wah. Seneng betul kalau ngelihat orang serba bengong melihat keadaan dia. Timbul takabburnya, sombongnya, ngenyek kepada yang lain. Maka orang kaya yang sombong, temen iblis, teman setan. Setan senang betul. Sebaliknya secara praktis orang kaya yang rendah hati adalah musuh iblis.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, lain memang kalau kita diberikan ilmu di akhirat nanti pertanyaan cuma satu, “Ilmumu kau amalkan untuk apa?” Kalau kita diberikan umur panjang, pertanyaan akhirat satu saja, “Umurmu kau habiskan dimana?” Tapi, kalau sudah harta diberikan kepada kita, pertanyaan akhirat dua,

من أين اكتسبه و فيما أنفقه ؟

“Hartamu kau dapat darimana, kau belanjakan kemana?”

Depan belakang ditanya.

Yang ketiga, teman iblis itu,

تاجر خائن

“Pedagang yang berkhianat.” Baik kepada sesama teman pedagangnya, karena ingin maju dari yang lain, terjadi persaingan yang tidak sehat. Di berbagai bidang bisnis itu. Ataupun kepada para pembelinya dengan mengatakan, barang yang tidak baik menjadi baik. Sebab pada dasarnya, apabila kaum pengusaha sudah berkhianat, akan timbul kegoncangan ekonomi. Dan kegoncangan ekonomi dampaknya adalah melahirkan kelas-kelas kemiskinan. Kemiskinan merupakan satu perangkat iblis. Biasanya orang kalau udah melarat, dah deket banget ma kafir. Kalau tidak dilatarbelakangi oleh nilai iman yang kuat. Udah melarat dah deket banget deh ma kafir. Apalagi iblis ini menggodanya pandai dia. Kepada orang miskin dia datang dengan bujukan materi. Kepada yang cukup hartanya dia datang dengan bisikan lain. Pendeknya iblis dan setan itu ibarat tukang joged dia ngerti betul irama gendang. Dimana kelemahan orang itu dia selidiki, dia pelajari. Dari arah situ dia masuk. Dan secara strategi perang iblis dan setan ini posisinya lebih menguntungkan daripada kita. Kenapa? Dia melihat kita. Kita mah ga lihat dia. Dia bisa pelajari kebiasaan dan kecenderungan kita. Kita ga tahu kadang-kadang kelemahan kita. Dari arah itu dia masuk. Posisi dan strateginya lebih menguntungkan daripada kita.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, bila ekonomi sudah goncang, terjadi penimbunan barang, terjadi spekulasi harga, timbullah kegoncangan sosial. Dan di kala itu setan dan iblis pesta. Dia merasa perangkapnya berhasil. Persaingan-persaingan yang tidak jujur, yang pada dasarnya akhirnya tidak cuma merusak sistem ekonomi, tapi juga mempengaruhi hasil kerjaan. Dalam tender-tender usaha-usaha besar misalnya, oleh karena mengejar supaya dia yang mendapat proyek, dia tidak segan sogok sini, suap sana, semir sana, usap sini. Tinggal untungnya sedikit, dan dia harus dapat untung besar. Akhirnya apa? Proyek yang dikerjakan asal sekedar jadi, tidak seperti standar yang ditetapkan lagi. Juga tidak merupakan kesalahan yang sepenuhnya harus dibebankan kepada dia, kesalahan yang merupakan siklus mata rantai lingkaran setan. Itulah sebabnya sering saya ungkapkan, kalau manusia sudah jadi teman setan, lebih buas daripada bajing. Karena bajing cuma makan kelapa, tapi bajingan apa saja dimakan. Sudah jadi teman-teman iblis, tidak ngerti halal haram, hak dan batil, ini kepentingan pribadi apa kepentingan orang banyak, yang penting sikat saja. Jadi yang ketiga ini targetnya memang kekacauan ekonomi. Yang kemelaratan, kemiskinan, merupakan tangga untuk sampai kepada kekafiran. Dan iblis tahu betul itu. Lain misalnya contoh yang diberikan oleh Rasul. Rasul kan pernah dagang di kala remaja itu. Membawa dagangannya Siti Khadijah; kain. Beliau dagang kain. “Berapa kain ini?” “Oh, kalau ini saya ambil dari ibu Khadijah 25 rupiah. Saudara mau beli saya berapa terserah asal saya ada untungnya.” Dan kalau modalnya 25, betul-betul beliau bilang 25. Jujur. Kita kan enggak, sudah bohong campur sumpah lagi. Ini yang ketiga.

Yang keempat, teman-teman setan, teman-teman iblis,

شارب الخمر

“Orang yang minum arak.”

Pemabuk itu teman setan. Bahkan divonis tidak beriman orang yang pada saat meninggal dunia di dalam perutnya itu masih ada khamr. Tidak beriman divonis. Jadi dalam satu pesta dimana disediakan minuman-minuman keras iblis itu sudah memasang perangkap. Dan bila minuman itu dihampiri orang, dia mulai seneng, wajahnya berseri-seri. Kalau minuman dituang ke gelas, dia tepuk tangan. Bila minuman mulai mengalir ke tenggorokan, dia jijimprakan iblis. Girang bukan main.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, kenapa pemabuk merupakan teman setan? Karena dalam keadaan mabuk orang kehilangan daya kontrol. Perbuatannya nyaris tidak terkontrol lagi. Tidak ada rahasia. Tidak ada harga diri. Tidak ada sifat memelihara. Dan itu ciri-ciri daripada iblis.

شارب الخمر

“Orang yang suka meminum minuman keras.”

Itulah sebabnya memang dalam hidup ini kita harus punya filter. Allah selalu menghendaki yang terbaik dan memilihkan yang terbaik untuk kita. Kalau sudah itu minuman yang baik kata Allah, itulah memang yang baik untuk kita. Kalau itu dilarang oleh Allah, itulah memang yang tidak baik untuk kita. Jadi, kalau sudah qath’i dalilnya, ga usah buang energi menyelidiki apa manfaatnya. Kalau sudah qath’i dilarang, ga usah buang energi menyelidiki apa bahayanya khamr. Allah tidak akan melarang sesuatu yang mengandung manfaat. Yang dilarang Allah tentu yang membawa mudharat dan bahaya di dalam kehidupan. Bukankah sekarang ini minuman keras sudah merupakan penghias pesta, merupakan kebanggaan di kalangan remaja, termasuk dalam kata khamr ini ya morfin, ganja, narkotik, dan yang sejenis dengan itu. Orang sudah merasa bangga kalau sudah fly to the sky, membubung ke angkasa, katanya, dunia ini luas, lupa segala macam persoalan. Tapi sampai kapan? Sampai kapan orang merasa membumbung? Sampai kapan orang bisa merasa meninggalkan segala persoalan? Sampai mabuknya selesai? Ya, kalau gitu mabuk aja terus. Lalu apa artinya kehidupan ini? “Haha, mabok kan ga ngerugiin orang lain. Kalau saya nyolong kan ngerugiin orang lain. Kalau saya korupsi, ngerugiin orang lain. Kalau saya zina, jelas ada orang lain yang dirugikan. Tapi, minum khamr siapa yang rugi? Uang, uang saya. Saya beli dengan uang saya. Yang minum pun saya. Siapa yang rugi?” saudara ini pemikiran sepihak namanya. Pertama, jelas merugikan diri sendiri. Kesehatan terganggu. Pertumbuhan IQ. Daya pikir jadi jumud bin beku. Tidak ada idealisme ke arah depan. Yang ada ya, yang dipikirkan ya yang di depan hidungnya saja. Dan konon itu pada mulanya memang orang kan sifatnya cuma ingin tahu. Nyobain, ketagihan. Ya kalau orang tuanya masuk golongan have, mampu. Kalau orang tuanya termasuk ekonomi lemah, sedangkan kecanduan hal yang tidak bisa ditangguhkan. Orang yang sudah kecanduan minuman keras, sekali dia tidak minum, sudah bukan main rasanya. Orang yang sudah biasa minum ganja, morfin, narkotik, satu kali dia tidak bertemu itu, sudah ga karuan rasa. Orang tuanya tidak mampu, kenapa lalu ga ngelamun yang negatif. Ya kalau dia keluarga have, orang tuanya masih ngelarang, dia bisa jual hal lain di rumahnya yang ada harganya, tape kah itu, video kah, mobilkah itu digadai dulu. Kalau di kampung, anak-anak muda yang menengah ke bawah, kenapa ga ayam orang disamber. Terjadilah perbuatan negatif yang akhirnya merembet kepada merugikan orang lain. Hakikatnya zhahirnya memang pada mulanya hanya merugikan diri sendiri, tapi lambat laun akan merembet juga kepada merugikan orang lain. Oleh karena itu pantas kalau dalam perjalan mi’raj begitu hendak start dari Masjidil Aqsha menghadap Allah kepada baginda Nabi disodorkan dua gelas minuman; segelas susu dan segelas arak. “Muhammad, kau ambil salah satu minuman itu. Kau minum.” Mantap Nabi mengambil gelas yang isinya susu lalu beliau minum. Selesai minum kata Jibril,

صدقت يا محمد لقد أصبت الحق

“Kamu benar Muhammad. Pilihanmu tepat.” Kenapa? “Untung saja susu yang kamu minum. Kalau arak yang kamu ambil, kamu pilih dan kamu minum, pasti umatmu bakal jadi umat teler semua nantinya.” Wong Nabi milih susu saja umatnya masih banyak yang teler. Apalagi kalau beliau memilih khamr waktu itu. Tapi ini sekedar simbol bahwa begitulah kita dalam hidup.

Saudara, kalau di depan kita ditaruh segelas jamu segelas sirup, kira-kira pilih mana? Sirup apa jamu? Orang yang berpikir panjang ke depan, dia bakal pilih jamu. Memang pahit, getir, ga enak, tapi besok pagi badan enteng, kerja semangat, berpikir cerdas, gairah ada. Orang yang pikirannya pendek, ngapain jamu, getir, nih sirup nih. Manis ini. Dia minum, bukan main manisnya, besok pagi bibir pada jontor. Begitulah dalam kehidupan ini. Maka hendaknya kita berusaha dengan sekuat kemampuan untuk menghindarkan diri dari minuman keras dan pengaruh-pengaruhnya.

Yang kelima, teman iblis itu,

القتات

“Tukang-tukang fitnah.”

Itu suling iblis itu, terompet setan. Sebab apa? Benar kalau Quran mengatakan Nabi mengatakan,

الفتنة أشد من القتل

“Fitnah lebih bahaya dari pembunuhan.”

Sebab apa? Pembunuhan membunuh orang secara langsung. Fitnah membunuh orang pelan-pelan. Kalau mati mah mendingan cepet daripada pelan-pelan. Pelan-pelan mati, cepet mati, enakan cepet, ga ngerasain sakit. Fitnah membunuh orang pelan-pelan. Nama baik orang hancur, dicoreng moreng ditengah masyarakat. Maka tukang-tukang fitnah teman-teman setan dari dunia sampai ke neraka nanti. Karena fitnah lebih berbahaya daripada pembunuhan. Mengada-ada, yang tidak ada, diada-adakan, fitnah. Melebih-lebih, berita semeter jadi tiga meter, yang dua meter, ya kalau positif. Kalau negatif, fitnah. Memang orang bilang, kalau kita nitip duit jangan harap lebih, kurang bisa. Tapi, kalau nitip omongan, jangan harap kurang, pas saja sudah untung itu. Biasanya lebih. Namanya omongan. Satu meter jadi dua meter. Dua meter jadi tiga meter. Itu sifat dari yang namanya omongan. Kita kirim uang, dah ga bakalan lebih dah. Ini nitip uang sama saya 50.000, tambahin 10.000 ah. Langka yang berpikir begitu. Kurang malah bisa. “Enak aja nitip, gua kan kemari pake ongkos.” Itung ah transport, misalnya. Tapi kalau sudah nitip omongan, pas saja sudah untung lho. Biasanya malah lebih. Fitnah pernah melanda Nabi Zakariya. Fitnah pernah melanda Habil dan Qabil. Fitnah pernah melanda Nabi Ibrahim. Fitnah bahkan pernah melanda kehidupan baginda Rasulillah Saw. dalam peristiwa yang lazim kita kenal dengan peristiwa haditsul ifki. Bagaimana gosip pun sempat mengguncang rumah tangga kehidupan baginda Nabi Saw. Sehingga pantas kalau beliau sendiri mengatakan,

الفتنة أشد من القتل

“Fitnah itu lebih bahaya daripada pembunuhan.” Karena fitnah membunuh orang secara pelan-pelan.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, lidah tidak bertulang.

صغير الجرم عظيم الجرم

“Kecil bentuknya, tapi besar akibatnya.”

Kalau kita luka karena silet, dua tiga hari boleh sembuh. Tapi luka karena lidah, seumur hidup kita ingat. Asal ngelihat orangnya, inget. “Nih dia nih yang ngomong kagak enak banget deh, gua tandain dah.” Itulah sebabnya pepatah bilang,

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

“Orang akan selamat jikalau dia pandai menjaga lidahnya.”

Saudara-saudara kaum Muslimin, yang keenam, teman setan,

صاحب الرياء

“Orang yang riya’.” Beramal cuma to show only, supaya ingin dipuji orang, ingin dilihat orang. Riya’ namanya. Tidak ada ikhlas. Sebab kata Imam Ghazali,

الناس كلهم موتى إلا العالمون ، العالمون نيام إلا العاملون ، والعاملون مغترون إلا المخلصون

“Manusia itu pada hakikatnya mati, kecuali orang alim. Orang alim sekalipun hidup hakikatnya adalah tidur kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali orang yang ikhlas.”

Tepat ini fatwa Imam Ghazali. Manusia pada hakikatnya tidur, kecuali orang yang alim. Orang yang alim walaupun hidup tapi tidur. Hidup tidur, ya ga bisa berbuat banyak, kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali yang ikhlas. Jadi, kalau amal itu adalah jasad, ikhlas itu adalah ruh. Amal tanpa ikhlas, patung. Patung tidak bisa berkembang tidak bisa berbuat banyak. Namanya patung. Itu amal tanpa ikhlas. Ini termasuk penyakit batin, riya’, ujub, sum’ah, penyakit kepingin didenger orang, penyakit kepingin dilihat orang. Wah, kalau sembahyangnya dilihat orang, mantap betul kayak besok mau mati. Tapi kalau sudah sembahyang yang ga dilihat orang, wah kilat khusus. Cepet bukan main. Riya’. Ini yang menghancurkan amal ini ga terasa. Sifat kita sendiri. Riya’ ini menggerogoti amal sebagaimana api menggerogoti kayu bakar.

Yang ketujuh, teman setan,

آكل مال اليتيم

“Orang yang memakan harta anak yatim.”

Itu setan seneng betul itu. Dia bisikkan, “Kau kan ngurus anak yatim. Ah, kau sudah menanamkan budi kepada mereka. Jadi wajar kalau kau ambil bagian.” Mula-mula memang dalam batas yang wajar. Makin lama, malah berebut sama yatimnya. Makin kesonoin, yatimnya malah ga keduman, panitianya yang kenyang.

آكل مال اليتيم

Orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim ini merupakan teman setan. Sebaliknya, orang yang melindungi anak yatim, kata Nabi, “Seperti dua jari ini dengan aku di akhirat nanti.” Dekat derajatnya dengan Rasul.

Yang kedelapan, teman setan,

المتهاون بالصلاة

“Orang yang nganggap enteng shalat.”

Ngenteng-ngentengin shalat. “Nanti aja dah kalau dah tua-tuaan ah. Sembahyang mah gampang saban hari ada. Kalau ini nih tinju jarang-jarang.” Al-mutahawin, ngenteng-ngentengin. Pada dasarnya agama itu mudah. Jangan dipersulit. Tapi juga jangan dipermudah. Agama itu tidak berat. Jangan diberat-beratin, tapi juga jangan dienteng-entengin. Sebab yang enteng kalau kita entengin, akhirnya menganggap remeh. Mulanya memang sedikit. Makin lama makin banyak, makin lama makin banyak, makin bertumpuk. Apalagi kalau sadar kita shalat adalah tiang daripada agama. Bagaimana rumah akan tegak tanpa tiang yang kuat. Bagaimana agama akan tegak dalam diri seseorang kalau shalatnya dienteng-entengin. Jangankan yang sunah, yang wajib saja kadang-kadang tutup lobang gali lobang. Padahal itu merupakan tiang pokok. Rumah itu untuk kuat harus ada tiang-tiang tambahan. Tiang-tiang tambahan ini ya nawafil ya rawatib, shalat-shalat sunah itu. Itu untuk menjaga stabilitas temperatur batin kita kepada Allah.

المتهاون بالصلاة

Jikalau sudah masuk waktu, beduk misalnya berbunyi, azan berkumandang, ha iblis mulai menyebar bala tentaranya. “Pasukan, siap.” Sama yang dagang dia bisikin, “Sedang enaknya loe dagang, pembeli lagi banyak-banyaknya. Sembahyang mah ada besok.” Sama yang kerja, “Loh, jangan ditinggal nih kerjaan, tanggung. Sembahyang masih ada besok.”

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, andaikata kita berhasil. Kita tinggalkan kesibukan, lalu kita pergi shalat, apa iblis diam, setan tenang, tidak. Masih dia bisiki kita, “Iya kalau mau sembahyang, ya sembahyang, cuma buruan udah. Yang mau belanja, yang mau nunggu, bukan main.” Sampai rukuk kita ga sempurna, bacaan kita semrawut, sujud kita tidak lengkap. Shalat juga, tapi di situlah masuk iblis. Kalau itu kita bisa berhasil cegah, rukuk tertib, ada thuma’ninah, sujud bagus, iblis masuk lagi. “Wah, memang sembahyang kamu mantap. Orang lain ga ada yang sembahyang kayak kamu.” Yang timbul apa? Ujub. Sombong kepada diri sendiri. Begitu rapi sembahyang, “Ehm, elo ya pada kagak sembahyang, apaan loe. Gue nih.” Itu sudah perangkap iblis. Jadi lewat segala macam cara dan jalan. Kepada yang ibadahnya bagus ditanamkan rasa ujub. Kepada yang mau berusaha bagus ditanamkan sifat was-was, buru-buru.

Saudara-saudara kaum Muslimin, ini yang kedelapan. Yang kesembilan,

مانع الزكاة

“Orang yang enggan membayar zakat.” Itu teman setan. “Ga ada urusan ama zakat. Sayang-sayang harta dizakatin.”

Saudara-saudara, padahal zakat itu kata Nabi,

زكوا أموالكم بالزكاة

“Bersihkan hartamu dengan zakat.”

Jadi barangkali bercampur harta itu dengan sedikit yang tidak baik, bercampur dengan yang kotor, zakat itu membersihkan yang lain. Kita misalnya dalam satu kelas punya murid 42 orang, ada 2 orang yang bandel ga ketulungan. Sudah segala macam cara kita perbaiki, ga juga berhasil. Ini kan kalau ga diatasi kan mempengaruhi teman-teman yang 40 orang. Untuk menyelamatkan yang 40 ini, ga papa yang 2 keluarin. Bikin pemecatan. “Anak saudara, kami sudah tidak sanggup lagi mengajar. Dengan ini kami berhentikan dari sekolah yang kami pimpin untuk menyelematkan teman-teman yang lebih banyak.” Mengeluarkan yang 2 untuk menyelamatkan yang 40. Sebab kalau tidak, ini nanti merembet. Yang 40 ngikut jadi ngeres. Begitu juga harta. Zakat untuk membersihkan yang masih tersisa.

Yang terakhir, yang kesepuluh, teman iblis,

من يطيل الأمل

“Orang yang terlalu panjang angan-angan.”

Penghitung bintang di langit, yang hidup cuma ngitung jikalau. Wiridannya cuma, “jikalau, jikalau, jikalau..” Tidak pernah mau berbuat. Cuma angan-angan kelewat panjang. Yang ngelamun kan ga ada sekolahannya, siapa juga bisa ngelamun. Orang bukan tidak boleh bercita-cita. Bahkan, cita-cita yang mendorong kita untuk bergairah dalam kehidupan. Tapi kalau cita-cita tanpa langkah kongkrit. “Ah, yang penting kan punya kemauan, selebihnya tawakal.” Ga cukup. Pernah datang ke masjid seorang shahabat. Begitu sampai dia turun dari onta langsung menghadap baginda Nabi. Nabi tanya, “Ontamu udah diikat belum?” “Belum, ya Rasul.” “Kenapa?” “Saya tawakkal kepada Allah.” Tuh orang diomelin ama Nabi, “Iket dulu, abis gitu baru tawakkal.” Betul tho? Ikut dulu tuh onta, selebihnya baru tawakkal. Kalau udah diiket masih lari juga, itu tawakkal. Lah, belum diiket dah tawakkal. Orang yang terlalu panjang angan-angan, yang akhirnya kalau tidak merusak cara berpikirnya, akan mendorong dia kepada perbuatan yang negatif untuk mewujudkan angan-angannya itu. Macam misalnya ya, pakaian kepingin bagus, harta mau banyak, usaha ogah, kerja capek sedikit tidak mau, kepingin seperti orang-orang, lalu ngelamun. Kalau tidak jadi gila, ya merusak perbuatannya. Kan berapa banyak orang yang kepingin kaya, gagal lalu jadi sableng. Kertas koran ditumpukin, dikantongin, dia kira gepokan duit. Hawanya duit udah banyak aja. Thulul amal, terlalu panjang angan-angan.

Nah saudara-saudara, kalau kita sudah tahu itulah teman-teman setan, teman-teman iblis, mari kita berusaha jangan termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang menjadi teman-teman iblis ini. Lalu cara untuk mengatasinya bagaimana? Imam al-Ghazali rahimahullah memberikan tuntunan:

Pertama, untuk mengatasi perangkap setan, jangan sampai kita termasuk salah satu teman setan, dzikrullah, banyak ingat kepada Allah. Sebab Nabi bersabda,

إن ذكر الله تعالى في جنب الشيطان كالأكلة في جنب ابن آدم

“Sesungguhnya dzikrullah, dzikir kepada Allah, itu dapat menyakiti setan sebagaimana penyakit menyakiti lambung anak Adam.”

Jadi, setan itu akan kurus kalau kita hantam pake dzikrullah. Setan tidak berdaya, lemah, kalau kita hantam pake dzikrullah. Ingat Allah, selalu merasakan kehadiran Allah, dekat dalam hidup. Itu senjata pertama. Dengan dzikrullah setan kurus. Kalau udah kurus, ya lemes. Ga berdaya ngadepin kita. Tapi kalau nafsu yang kita ikutin, kita umpanin tuh setan, lah gemuk. Begitu gemuk, makin berleluasa dia ngutak-atik kita.

Yang kedua, jangan mendekati tempat maksiat. Sebab,

من حمى حول الحمى يوشك أن يقع فيه

“Orang yang main di pinggir kali ditakutin kecebur di kali.”

Jangan mendekati tempat yang cenderung membawa kita ke tempat maksiat.

Saudara-saudara, yang ketiga mengosongkan perut. Dalam arti, rajin puasa, puasa sunah. Kata Nabi,

إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع

“Setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah, maka persempit jalan setan.” Dengan apa? Bil ju’, dengan memperbanyak lapar. Bukan memperturutkan syahwat. Pantas kalau Nabi bilang, “Saya adalah sekelompok orang yang tidak makan, kecuali kalau kami lapar. Dan kalau kami makan, tidaklah sampai kekenyangan.” Bukan ga kenyang, tapi ga kekenyangan.

Yang terkahir, kata Imam Ghazali, hendaknya kita selalu ingat bahwa tujuan iblis dan setan adalah menjerumuskan manusia, menyengsarakan manusia, supaya kita menjadi teman mereka di neraka nanti. Kalau ingat itu, insya Allah kita bisa mengerem diri.

Nah inilah saja yang dapat kita sampaikan pada pertemuan kali ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih dan mohon maaf.

أوصيكم ونفسي بتقوى الله

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Download Dakwah KamiKamu di Google Playstore