Singa Raksasa

Pagi itu begitu cerah. Sinar Matahari yang bersinar keemasan menyeruak indah di timur angkasa Anthokia. lak Nampak satu pun awan yang menyelimuti keindahannya.

Kaisar Heraklius, sang Kaisar Romawi masih termenung. Dia tidak menduga bahwa pergerakan pasukan Muslimin sangat cepat. Baru saja dia mendapat kabar dari prajurit bahwa saat ini kaum Muslimin tengah menyiapkan seluruh armada perang untuk menggempur Anthokia.

Kaisar Heraklius memanggil seorang ajudan dan memerintahkannya mengundang seluruh petinggi kerajaan dan sekutu Romawi untuk berkumpul di Gereja Kaisan guna rapat darurat.

Tak berselang lama, seluruh petinggi kerajaan dan sekutu Romawi telah hadir di dalam Gereja. Para jenderal, komandan, dewan senat, bangsawan Romawi, Bani Ghassan dan sekutu Romawi yang lain telah hadir.

Kaisar Heraklius berdiri dan memulai berbicara, “Wahai Kaum Nasrani! Wahai orang-orang yang telah terbaptis! Sungguh telah dekat apa yang pernah kuperingatkan kepada kalian, dari hancurnya kerajaan dan kedudukan ini. Sedangkan kalian tidak mau menerima pendapatku dan malah ingin membunuhku.”

Para pembesar terdiam. Sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah melihat amarah Kaisar Heraklius memuncak seperti ini.

“Dan kini, kaum Arab itu telah masuk ke dalam wilayah kerajaan kalian.”

Para pembesar itu tercekat, ternyata apa yang mereka khawatirkan kini telah benar-benar terjadi.

Tiba-tiba Jabalah bin Uwaihim dari kabilah Ghassan berdiri. Dengan mantap dia berkata, «Wahai Kaisar penguasa Romawi! Sesunguhnya kekalahan orang-orang Arab itu hanya dengan terbunuhnya Khalifah mereka yang berada di Madinah, Umar bin Khattab. Barangkali Anda mengutus seorang laki-laki dari kabilah Ghassan untuk membunuhnya, maka hal itu akan menjadi sebab kelemahan mereka dan suksesi kita merebut kembali Syam.”

Kaisar Heraklius terdiam. Ia memikirkan secara mendalam usulan itu. kemudian ia menjawab, “Kalau begitu, lakukan apa yang kau mau!”

Baca Juga :  Jubah Sang Khalifah

Tak berselang lama, pertemuan itu selesai. Jabalah kembali ke daerahnya dan memanggil Wastiq bin Musafir, seorang laki-laki paling pemberani dari kabilah Ghassan dan lihai di medan perang.

Dengan penuh wibawa, Jabalah berkata, “Pergilah kau ke Yastrib, dan bunuhlah Umar. Apabila kau berhasil maka aku akan memberimu harta sebanyak apa yang kau mau.”

Watsiq mengangguk paham. Dia pun undur diri untuk segera melaksanakan misi itu. Begitu tiba di rumahnya dia langsung menyiapkan bekal secukupnya. Beberapa senjata ringan dia bung­kus sedemikian rupa.

Untuk menyamarkan identitasnya dia akan menyamar sebagai pedagang. Setelah dirasa cukup, dia langsung berangkat menuju Madinah.

Beberapa hari kemudian, akhirnya Wastiq telah tiba ke Madinah saat malam. Saat pagi hari, Khalifah Umar keluar menuju Masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah. Setelah itu, khalifah Umar keluar ke arah utara Madinah untuk mencari kabar tentara Muslim yang berperang di Syam.

Sementara itu, Watsiq mendapat informasi bahwa Khalifah Umar saat siang hari tidur di kebun Ibnu Dahdan al-Anshari. Dia segera mendatangi kebun itu, lalu memanjat salah satu pohonnya, dan duduk bersembunyi menunggu kedatangan Khalifah Umar di balik rerimbunan dahan pohon.

Tak terasa Matahari telah bersinar dengan terang. Udara terasa begitu panas. Khalifah Umar segera kembali ke Madinah.

Khalifah Umar masuk ke dalam kebun Ibnu Dahdan untuk tidur  siang. Dia masuk ke dalam kebun tanpa ada seorang pun yang menemaninya.

Melihat hal itu, Watsiq begitu girang. Dia diam dan menunggu beberapa saat hingga Khalifah Umar benar-benar tertidur.

Setelah yakin bahwa Khalifah Umar tertidur. Watsiq mengeluarkan belati beracun yang telah dia siapkan, dan bersiap melompat ke arah Khalifah Umar yang telah tertidur pulas.

Baca Juga :  Cambukan dan Kasih sayang

Watsiq tercekat, tiba-tiba ia melihat seekor Singa besar yang mendadak muncul di samping Khalifah Umar. Singa itu tubuhnya tinggi besar seukuran sapi dewasa.

Keringat dingin keluar pelan dari wajah Watsiq. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia mengamati singa raksasa itu dengan lebih teliti.

Singa raksasa itu berdiri dan berjalan mondar-mandir di sekililing Khalifah Umar. Lalu si singa raksasa duduk di bawah telapak kaki Khalifah Umar dan dengan jinak dia menjilati telapak kaki Khalifah Umar.

Tiba-tiba Khalifah Umar terbangun dan anehnya, Singa raksasa itu seketika langsung lenyap.

Watsiq sangat takjub melihat hal itu. Sungguh ini adalah suatu hal yang di luar kekuasaan manusia biasa. Watsiq segera turun dari atas pohon. Khalifah Umar terkisap dia tak menduga ada seorang laki-laki yang berada di atas pohom kurma itu.

Watsiq mendekati Khalifah Umar dan mencium tangannya. Lalu menceritakan seluruh kisahnya, termasuk singa raksasa yang barusan keluar menjaga Khalifah Umar.

Dengan hati yang mantap Watsiq mengucapkan dua kalimat syahadat, mengikrarkan keislamannya di hadapan Khalifah Umar.