Said bin Amir, Gubernur yang Miskin

Jalanan kota Madinah begitu ramai. Jalanan penuh sesak oleh setiap penduduk yang hendak menyelesaikan kepentingan mereka masing-masing. Beberapa laki-laki sedang menyusuri jalanan itu. Mereka adalah utusan dari penduduk Homs untuk menemui Khalifah Umar. Penduduk Homs memang sering mengutus seseorang untuk menemui Khalifah Umar secara langsung. Karena mereka begitu menyukai Khalifah Umar yang terkenal begitu adil dan memerhati­kan rakyatnya.

Begitu bertemu dengan Khalifah Umar, mereka mengenalkan dirinya dan maksud kedatangannya dari Syam. Setelah Khalifah Umar menyelesaikan urusan dengan utusan penduduk Homs itu, Khalifah Umar berkata, “Tulislah nama-nama orang fakir di antara kalian sehingga aku bisa memberi mereka harta dari Baitul Mal”

Para utusan itu segera menulis nama-nama orang fakir Homs. Salah satunya adalah Said bin Amir. Setelah selesai, dia langsung menyodorkan nama-nama itu kepada Khalifah Umar.

Ketika membaca nama-nama itu, Khalifah Umar penasaran dengan Said bin Amir. Karena namanya sama dengan nama gubernur yang beberapa saat lalu dia lantik untuk memimpin Homs.

“Siapa Said bin Amir itu?” Tanya Khalifah Umar penasaran.

“Dia adalah gubernur kami.” Terang utusan itu.

“Gubernur kalian fakir?” Heran Khalifah Umar.

Mereka segera menjawab, “Benar, Demi Allah. Sudah beberapa hari rumahnya tak mengepulkan asap.”

Mendengar penuturan mereka, Khalifah Umar menangis tersedu-sedu. Dia segera mengambil uang seribu dinar dan meletakannya di dalam kantong.

“Berikan ini kepada gubernur kalian, agar dia bisa memenuhi kebutuhannya dari uang ini!” Perintah Khalifah Umar seraya menyerahkan kantong itu.

Utusan penduduk Homs berpamitan. Mereka bergegas kembali ke Homs.

Beberapa waktu kemudian, mereka telah sampai ke Homs, mereka langsung pergi menemui Amir mereka, Sa’id. Dan menyerahkan kantong titipan Khalifah Umar.

Baca Juga :  Kisah Tabiat Manusia

Said terkejut menerima kantong itu. Spontan Said berkata agak keras, “ Innalillahi Wa inna ilaihi raji’un, Innalillahi Wa inna ilaihi raji’un. ” Said berkata seperti itu seakan-akan dia tertimpa musibah yang amat besar.

Istrinya yang mendengar perkataan Said tadi segera mendatangi Said. Dan bertanya, “Ada apa wahai suamiku? Apakah Amirul Mukminin meninggal dunia?”

Said tertunduk, lalu dia menoleh ke arah istrinya dan berkata, “Lebih dari itu, telah datang dunia kepadaku untuk merusak amal akhiratku.”

“Kalau begitu berlepaslah darinya.” Ucap istri Said secara tegas. Padahal dia sama sekali tidak tahu perihal seribu dinar titipan Khalifah Umar.

“Apakah kau mau menolongku untuk itu?” Tanya Said.

Istri Said tersenyum dan mengangguk pelan.

“Mana bajumu yang telah rusak?” Tanya Said pada istrinya.

Istri Said mengambil bajunya yang telah rusak di dalam kamar dan menyerahkan ke Said.

Lalu Said memotong baju itu menjadi beberapa potonggan kecil kemudian uang seribu dinar pemberian Khalifah Umar dia masukkan ke dalamnya.

Said dan istrinya keluar rumah dan membagi seluruh uang seribu dinar itu kepada kaum fakir dan miskin muslim Homs.

Beberapa waktu kemudian Khalifah Umar mengunjungi Homs untuk melihat keadaan rakyatnya secara langsung. Lantas dia menemui penduduk Homs dan bertanya mengenai Said bin Amir.

Mereka berterima kasih kepada Khalifah Umar karena telah memerhatikan mereka dan memuji Said. Namun mereka mengadukan tiga hal yang tidak mereka sukai darinya.

Mendengar hal itu, Khalifah Umar terkejut, dia langsung menyuruh seseorang agar memanggil Said. Saat Said datang Khalifah Umar segera memanggil Penduduk Homs.

Khalifah Umar langsung bertanya, “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”

Baca Juga :  Kisah Sang Penolong

Mereka menjawab, “Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya dia tidak akan datang menemui penduduk kecuali apabila hari telah beranjak siang.”

Khalifah Umar menoleh ke arah Said dan menatapnya dengan tajam. Kemudian dia meminta Said untuk menjawab keluhan rakyatnya.

Dengan halus Said menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya aku benci untuk mengatakan hal ini. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. Sehingga saya membuat adonan roti sendiri bersama mereka. Saya menunggu hingga adonan itu mengembang. Setelah itu, saya memanggang roti untuk mereka, kemudian saya mengambil wudhu’ dan keluar menemui mereka.”

Khalifah Umar kembali bertanya, “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”

Penduduk Homs menjawab, “ Dia sama sekali tidak menemui seorang saat malam hari.”

Said berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku benci untuk memberitahukan hal ini. Sesungguhnya saya menjadikan siang untuk mereka, dan saya menjadikan malam untuk berbakti kepada Allah.”

Khalifah Umar tersenyum mendengar jawaban Said. Lalu dia kembali bertanya, “Apa yang kalian keluhkan lagi dari gubernur kalian?”

Penduduk Homs menjawab, “Sesungguhnya pada setiap bulan dia memiliki satu hari, dimana dia tidak menemui seorang pun pada hari itu.”

Khalifah Umar berkata, “Apa yang akan kau katakan, wahai Said?”

Said tertunduk, dengan pelan dia berkata, “Saya tidak memiliki seorang pembantu yang mencuci pakaian saya. Dan saya tidak memiliki pakaian kecuali pakaian yang melekat pada saya ini. Maka pada hari itu saya mencuci pakaian ini dan menunggunya hingga kering kemudian saya keluar menemui para penduduk.”

Spontan Khalifah Umar mengangkat kedua tangan dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak membuat prasangkaku jelek kepadamu.”