Perlakuan Untuk Budak

Mekah yang biasanya legang kini terasa sesak. Ribuan kaum muslimin tumpah menjadi satu untuk melaksakan ibadah Haji. Takbir, tahmid terdengar bertalu-talu di segala arah.

Khalifah Umar tengah duduk dengan beberapa sahabatnya. Udara yang panas membuat beberapa laki-laki di sampingnya kegerahan. Peluh-peluh bercucuran membasahi wajah mereka.

Shafwan bin Umayyah merasa bahagia bisa bertemu dengan khalifah yang terkenal adil dan sangat perhatian kepada rakyat­nya Itu. Dia pun menyuruh pembantunya membuat masakan yang mewah untuk Khalifah Umar dan para sahabatnya.

Setelah matang, masakan itu pun segera dihidangkan ke hadapan Khalifah Umar dan para sahabatnya.

Masakan itu begitu mewah dan banyak. Makanan itu diletakkan di sebuah nampan yang diangkat oleh empat orang laki-laki bertubuh besar.

Setelah meletakkan nampan itu, empat laki-laki bertubuh besar itu bangun dan beranjak pergi. Para laki-laki yang mengelilingi Khalifah Umar segera memakan hidanga itu.

Khalifah Umar melihat orang-orang yang sedang menikmati hidangan itu. Tapi dia tak melihat kawanan pembantu.

‘’Kenapa aku tidak melihat pembantumu makan bersama kalian? Apakah kalian membenci mereka?” Tanya Khalifah Umar menyelidik.

Sufyan bin Abdullah segera menjawab” Tidak Wahai Amirul Mukminin, tetapi kami mengutamakan sahabat Anda dari pada mereka.”

Mendengar jawaban itu Khalifah Umar langsung marah. Dengan suara keras dia berkata, ” Karena apa orang-orang lebih mengutamakan hal ini dari pembantu mereka? Allah akan berbuat seuatu kepada mereka dan Dia akan mengerjakannya.”

Khalifah Umar kemudian menoleh ke arah para pembantu dan berkata” Duduk dan Makanlah kalian!”

Mereka menuruti perintah Khalifah Umar dan langsung menikmati hidangan itu dengan para majikan mereka. Sementara itu Khalifah Umar mengawasi mereka. Dia tak mencicipi hidangan itu sama sekali.