Kisah Tawanan Perang

Siang itu Khalifah Umar tengah duduk bersama Abdullah bin Abbas. Walaupun usianya masih muda, Khalifah Umar sering mengajak Abdullah bin Abbas berdiskusi.

Khalifah Umar terdiam. Dia berusaha mengingat kepingan- kepingan memori indah saat masih bersama Rasullullah dahulu. Dengan agak terisak Khalifah Umar mulai bercerita:

“Saat perang Badar, Allah mengalahkan kaum musyrikin. 70 orang dari mereka terbunuh dan 70 orang yang lain tertawar Kemudian Rasulullah mengajak musyawarah Abu Bakar, Usma’y aku, dan Ali.

Beliau bersabda kepadaku, Apa pendapatmu wahai Ibnu Khattab?’

Aku pun menjawab, ”Saya berpendapat apabila Anda memberi kuasa saya kepada Fulan (kerabat Khalifah Umar) maka saya akan memenggal lehernya. Anda memberi kuasa Ali kepada Aqil lalu dia memenggal lehernya. Anda memberi kuasa Hamzah kepada Abbas kemudian dia memenggal lehernya.

Sehingga dengan ini Allah mengetahui bahwa dalam hati kita tidak ada lemah lembut kepada kaum musyrik. Mereka adalah para para pembesar, pimpinan, dan teladan kaum musyrik.”

Tapi Rasulullah tidak condong kepada pendapatku. Dan beliau mengambil tebusan dari mereka.

Keesokan harinya, aku berangkat pagi-pagi menuju Rasulullah. Saat aku datang, Rasulullah dan Abu Bakar tengah duduk seraya menangis.

Aku berkata, ”Wahai Rasulullah! Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Apabila saya menemukan kesedihan, maka saya akan menangis, apabila saya tidak menemukan kesedihan, maka saya akan menangis karena tangisan Anda berdua.”

Rasulullah bersabda, ”Ini karena tebusan yang ditawarkan oleh teman-temanmu, sungguh telah dibentangkan kepadaku azab mereka dekat dari pohon itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya :

Artinya: “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk­mu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 67-68).