Khalifah yang Dzalim

Yahya Al-Makki baru saja tiba di Madinah. Dia datang ke Madinah bersama seluruh keluarga besarnya. Begitu menginjakkan kaki di Madinah, rasa rindunya kepada Rasulullah sudah tidak dapat dibendung. Dia bergegas menuju makam Rasulullah dan mengucapkan salam kepada beliau yang telah berada di Rafiqul A’la. Air matanya menetes pelan mengairi kegersangan hatinya. Ada semilir kedamaian yang merembas ke dalam hatinya.

Setelah merasa cukup, Yahya keluar dari Masjid Nabawi. Saat di tengah jalan, Yahya bertemu dengan seorang wanita. Yahya mendekati wanita itu dan bertanya beberapa hal. Di saat itu juga ada seseorang yang memukul kepalanya. Yahya menoleh, ternyata seseorang yang memukul kepalanya adalah Khalifah Umar.

Dengan menahan rasa sakit di kepalanya, Yahya berkata, “Wahai Amirui Mukminin. Anda telah menganiaya diriku. Demi Allah dia adalah istriku”

“Lantas, kenapa kau tidak berbicara dengannya di balik pintu atau tirai?” Tanya Khalifah Umar sambil mengelus dada menahan marah.

“Wahai AmiruI Mukminin! dia datang menemuiku maka aku menanyainya beberapa masalah.” Terang Yahya.

Mendengar penuturan itu, spontan Khalifah Umar memberikan cambuknya kepada Yahya seraya berkata, “Balaslah perbuatanku!”

“Tidak.” Tegas Yahya.

“Kalau begitu, maafkan aku.”

“Tidak.”

Seketika itu juga Khalifah Umar memegang tangan Yahya dan pergi ke rumah Ubay bin Kaab. Saat tiba di rumah Ubay, Khalifah Umar mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk.

Keluarlah anak Ubay bin Kaab menemui Khalifah Umar. Anak itu bertanya, “Apa kebutuhan Anda wahai Amirul Mukminin?”

“Katakan kepada ayahmu agar dia keluar!” Jelas Khalifah Umar kepada anak itu.

Sang anak kembali masuk. Tak berselang lama, Ubay bin Kaab keluar. Wajahnya nampak begitu tua. Rambut dan jenggot­nya telah memutih. Kemudian Ubay duduk bersama Khalifah Umar. Sementara Yahya berdiri di samping Khalifah Umar.

Baca Juga :  Meluruskan Penggunaan Dalil Aqli ala Sugi Nur yang Menyesatkan

“Bacakan aku ayat, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat*.”” Pinta Khalifah Umar kepada Ubay bin Kaab.

Ubay segera menuruti permintaan Khalifah Umar. Dia membaca surat itu dengan pelan.

Khalifah Umar terdiam mendengarnya. Setelah Ubay selesai, Khalifah Umar bertanya, “Apakah ayat ini turun kepada Umar?”

Ubay bin Kaab menjawab, “Tidak.”

Dengan terisak Khalifah Umar berkata, “Sesungguhnya aku telah memukul orang-orang mukmin, tetapi mereka tidak memukulku. Aku telah mencela orang-orang mukmin, tetapi mereka tidak mencelaku. Dan aku telah menyakiti orang-orang mukmin tetapi mereka tidak menyakitiku.”

Ubay menghela nafas. Dia faham akan kekhawatiran Khalifah Umar saat ini. Dengan tenang dia berkata, “Tidak. Tetapi aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadis yang langsung kudengar dari Rasulullah, beliau bersabda : Saat hari kiamat, seorang juru seru menyeru dari arah Allah : Ingatlah, jangan ada salah satu dari kalian yang mengangkat kitab catatan amal sebelum Umar bin Khattab mengangkat kitab catatan amalnya. Kemudian kau didatangkan dengan wajah yang bersinar, lalu kau mempersembahkan buku catatan amal kepada Rabb-mu dengan tangan kanan.

*(Q.S. Al-Ahzab [33]: 58)