Ketika Namrud dan Fir’aun Menentang Tuhan

Dua raja kafir yang menentang dakwah nabi dan rasul Allah serta mengaku sebagai tuhan adalah Namrud dan Fir’aun. Raja Namrud yang berkuasa di Babylonia berhadapan dengan Nabi Ibrahim a.s., sedangkan Fir’aun yang berkuasa di Mesir berhadapan dengan Nabi Musa a.s. dan Harun a.s.

Kehancuran Namrud akan segera tiba, tetapi Allah bersabar kepadanya. Namrud makin kejam dan tidak sedikit pun memiliki rasa keadilan. Ketika Namrud menyaksikan kejadian hebat yang menimpa Ibrahim setelah selamat dari dilemparkannya ke dalam api yang menyala, sebenarnya ia mulai takut dan khawatir. Namun, dikarenakan kekuasaan ada di tangannya, ketakutan dan kekhawatirannya itu ia salurkan menjadi kemarahan besar terhadap Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim a.s. pun dipanggil ke istana. Namrud menuduh, “Engkau telah menyebarkan fitnah yang sangat jahat. Apakah Tuhan yang engkau ajarkan itu? Apakah ada Tuhan lagi selain diriku? Akulah tuhan yang harus disembah. Akulah yang mengatur dan merusak semuanya. Siapakah yang lebih tinggi kuasanya daripada diriku? Semua orang tunduk kepadaku. Mengapa kamu keluar dari garis yang diturut oleh banyak orang dan berani menentangku?”

Selanjutnya, terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim a.s. dan Namrud seperti yang tertuang dalam QS al-Baqarah [2]: 258 sebagai berikut.

Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” dia berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Ketika Namrud tidak berkutik dan tidak bisa menjawab pertanyaan Ibrahim, ia pun makin marah. Nabi Ibrahim telah membungkam kesombongan dan keangkuhan Namrud di depan banyak orang. Namun, tiba-tiba ia berkata lantang, “Ibrahim, sampaikan kepada Tuhanmu bahwa aku tidak takut kepada-Nya dan tidak memerlukan-Nya. Pergilah, seluruh dunia mengagumiku. Seluruh penduduk taat kepada perintahku. Apabila Dia Tuhan langit, aku adalah tuhan bumi. Di manakah angkatan bersenjatanya? Apabila langit roboh, jatuhnya juga kepada pasukanku. Mereka tidak mampu mengangkat tombak. Sampaikan kepada Tuhan, aku menantangnya berperang! Dia tidak punya sesuatu pun di atas muka bumi ini. Seluruh muka bumi ini kepunyaanku, kerajaanku.”

Allah memberi jawaban kepada Ibrahim, “Biarlah ia datang menuju suatu tempat dan aku akan berperang melawannya!”

Nabi Ibrahim a.s. meneruskan pesan Tuhan kepada Namrud. Men­dengar Tuhan menjawab tantangannya, Namrud makin gila, la pun mengumpulkan seluruh bala tentaranya. Genderang perang mulai ditabuh. Allah SWT memberikan komando kepada ‘angkatan bersenjata’ para nyamuk. Kemudian, Allah SWT menyuruh makhluk-makhluk-Nya beraksi melawan si kafir yang congkak dan kepala batu. Langit menjadi hitam dan debu beterbangan berputar-putar.

Pasukan Namrud berdiri lantang siap berperang. Ketika terompet perang dibunyikan, seketika segerombolan nyamuk terbang cepat bergulung-gulung bagaikan puting beliung. Mereka menerobos cepat merasuk ke dalam mulut-mulut prajurit Namrud. Menggigit telinga, mata, kulit, dan wajah mereka. Tak tanggung-tanggung, gigitannya mampu merontokkan sistem saraf dan membekukan aliran darah.

Pasukan Namrud tidak mengira akan melawan nyamuk. Satu per satu mereka lari tunggang langgang meninggalkan gelanggang. Berpencar tak tentu arah, kebingungan mencari tempat berlindung. Kuda-kuda juga ketakutan, meringkik dan berlarian. Dalam waktu yang tidak lama, lumatlah semua pasukan Namrud yang berkekuatan lebih dari seratus ribu personil.

Namrud sendiri lari meninggalkan medan pertempuran dan berlin­dung di salah satu bentengnya, la berpikir telah menyelamatkan nyawanya dengan menutup seluruh pintu dan jendela-jendela kecil.

Seekor nyamuk yang sayapnya patah tidak sanggup menaati perintah Tuhan untuk menyerang si kafir berkepala batu, la menghadap Tuhan dan berkata, “Ya Tuhanku, apakah aku berdosa hingga Engkau melarangku turut serta berperang melawan Namrud. Kalau saja kaki dan sayapku masih kuat, niscaya aku akan menggigit musuh-musuh-Mu!”

Allah berkata, “Pergilah, hancurkan si terkutuk itu!”

Nyamuk timpang ini mulai pergi. la terbang terhuyung-huyung menuju benteng tempat Namrud bersembunyi. Masuk melalui lubang kunci, ia pergi dan berdiam diri di lutut Namrud. Namrud mengetahui serangga tersebut dan berupaya membunuhnya. Namun, si nyamuk hinggap di lutut yang satunya lagi seraya berkata, “Engkau berkata kepada Ibrahim bahwa kau punya kekuasaan terhadap kehidupan dan kematian. Engkau membuktikannya dengan membunuh satu orang dan membiarkan satu orang lain bebas. Sekarang bunuhlah aku!”

Namrud tidak bisa membunuh si nyamuk betapa pun ia sangat menginginkannya. Allah menunjukkan kelemahannya, “Namrud, engkau tidak mampu berbuat apa pun kalau tidak berdasarkan kehendak-Ku. Kau seorang pembunuh dan telah menyimpang. Kekuasaan yang Aku berikan sebagai dalih untuk membangkang kepada-Ku. Engkau bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Apa yang terjadi dengan kesombonganmu? Di mana pasukanmu? Di mana ketuhananmu?Lihat, betapa lemahnya dirimu. Ditaklukkan oleh makhluk­ku yang rendah. Engkau telah dihinakan dan dinistakan!”

Lagi-lagi, Namrud terkulai lemas tak bertenaga. Si nyamuk masuk ke lubang hidung mulai merusak membran otaknya. Sang tiran merasakan kepalanya bergetar laksana dihantam batu, la benar-benar menderita. Gairahnya sudah hilang dan pikirannya hanya tertuju pada bagaimana bisa menyelamatkan diri. Jiwanya seakan keropos karena benteng yang kukuh tak lagi mampu melindunginya, la hampir roboh dan matanya berkunang- kunang. Cakar-cakar kematian telah mencengkeramnya.

Kini, di saat maut menjemputnya, ingatannya melayang pada perbuatan yang sudah dilakukannya, la telah menentang Tuhan dan mengaku dirinya sebagai tuhan. Akhirnya, ia kalah dan mati mengenaskan hanya oleh seekor nyamuk yang timpang.

Tak jauh berbeda dengan Namrud. Fir’aun pun menentang Tuhan dan mengaku sebagai tuhan. Hal ini bisa ditelusuri dalam firman Allah SWT QS al-Qashash [28]: 38-39.

Dan Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.” Dan dia (Fir’aun) dan bala tentaranya berlaku sombong, di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.

Diriwayatkan bahwa Fir’aun pun benar-benar naik ke puncak bangunan pencakar langit yang dibangun oleh Haman untuknya. Setelah itu, ia turun lagi seraya berkata dengan sombong, “Aku tidak menemukan Tuhan Musa.”

Az-Zamakhsyari berkata, “Ketika bangunan menjulang tinggi itu telah berdiri, Fir’aun naik ke atasnya, la melepaskan anak panah ke arah langit. Allah bermaksud mencoba Fir’aun. Anak panah itu dikembalikan dalam keadaan berlumur darah. Fir’aun pun berkata, ‘Tuhan Musa telah kubunuh. Sekarang, Musa sudah tidak punya Tuhan lagi.'”

Pernyataan az-Zamakhsyari tersebut merupakan penafsiran Surah al-Mu’min Ayat 37, “… Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir’aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.”

Setelah “dapat memanah Tuhan Musa”, Fir’aun turun dari gedung tinggi tersebut. Makin bertambah kesombongan dan kesesatannya. Rakyatnya kian tunduk dan patuh kepadanya. Mereka mengakui kehebatan dan kelebihan Fir’aun yang telah mampu “memanah” Tuhannya Musa. Mereka bersujud kepadanya. Masyarakat Fir’aun pun menjadi makin fasik.

Beberapa musibah pernah menimpa Fir’aun dan kaumnya. Namun, semua itu tidak menjadikannya sadar dan beriman kepada Allah SWT. Pada awalnya Fir’aun berjanji kepada Nabi Musa a.s. bahwa jika bencana itu hilang, ia dan kaumnya akan beriman. Namun, janji tinggal janji. Bahkan, kian hari kian menunjukkan kesombongannya, la dan pasukannya ingin menghabisi Nabi Musa a.s. yang hijrah membawa kaumnya. Allah telah menggerakkan hati Fir’aun untuk mengejar Nabi Musa. Akhirnya, ia bersama pasukannya mengejar Nabi Musa a.s. yang sudah berada di tepi laut. Allah menyuruh Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Seketika itu juga laut terbelah menjadi dua bagian dan di tengahnya ada jalan besar yang kering.

Nabi Musa a.s. dan kaumnya melintasi jalan tersebut, sementara Fir’aun dan pasukannya terus mengejar. Ketika Nabi Musa dan kaumnya sudah sampai di seberang laut, Fir’aun dan pasukannya masih berada di tengah jalan di antara dua dinding lautan. Pada saat itulah, Allah Yang Mahagagah dan Kuasa membinasakan Fir’aun beserta pasukannya. Laut itu kembali bersatu dan akhirnya Fir’aun yang kelewat sombong dan mengaku tuhan itu ditenggelamkan oleh Allah SWT di laut beserta seluruh pasukannya.