Biografi Abu Dzar Al-Ghifari ra.

“Katakanlah wahai manusia, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya” Teriakan itu mengejutkan orang-orang yang berada di Baitullah.

Tak berapa lama, puluhan penduduk Mekkah mendekati­nya. Pukulan dan tendangan dia terima tanpa perlawanan. Dia jatuh dan pingsan. Hampir saja nyawanya tak tertolong, tapi Abbas bin Abdul Mutahlib ra., yang tak lain paman Rasulullah datang dan menghentikan pengeroyokan itu.

Tahukah kalian, siapa orang itu?” Ujar Abbas menghenti­kan tangan-tangan yang hendak memukul, “Dia adalah salah satu tokoh bani Ghifar. Kalian pasti tahu seperti apa suku itu. Suku perampok yang selalu menghadang kafilah dagang yang lewat Bayangkan apa yang akan dilakukan suku Ghifar pada kafilah dagang kalian saat mengetahui orang ini meninggal.”

Mendengar kata-kata Abbas ra., orang-orang pun meninggalkan laki-laki yang bahkan namanya pun mereka tak tahu. Dia adalah Abu Dzar dari suku Ghifar. Jauh-jauh datang ke Mekkah karena mendengar tentang risalah dari seo­rang nabi baru. Kabar kebenaran yang selama ini sudah sangat| dirindukannya.

Beberapa hari sebelumnya, Abu Dzar datang ke Mekkah seorang diri. Layaknya seorang musafir dia datang dengan pe­nampilan sederhana. Dia mendatangi Ka’bah yang sudah terkenal dari zaman dulu sebagai tempat ziarah,. Sebagai orang yang dibesarkan dari suku Ghifar dia tahu tidak mungkin bertanya ke siapa saja tentang Muhammad. Jika salah bertanya, keselamatannya bisa terancam. Bahkan sebelum dia menyata­kan keimanan di dadanya.

Hingga suatu hari, dia mendengar informasi di mana bisa bertemu Muhammad. Dan saat bertemu dengan manusia mulia itu Abu Dzar pun langsung berkata, “Bacakanlah syair-syair­mu, Tuan!”

“Aku tidak membuat syair, ini adalah Al-Qur’an.” Jawab Ra­sulullah lalu dilanjut dengan membacakan beberapa ayat.

Belum selesai ayat yang dibaca tiba-tiba laki-laki di depan Rasulullah langsung mengucapkan kesaksiannya, “Sesung­guhnya aku meyakini tiada Tuhan selain Allah, dan Muham­mad adalah utusan-Nya.”

“Siapakah engkau?” Tanya Rasulullah dengan senyum gem­bira.

“Abu Dzar dari Ghifar!”

Mendengar nama sukunya, Rasulullah semakin takjub. Wa­jahnya berseri-seri. “Sungguh, Allah memberi hidayah kepa­da siapa saja.” Kata Rasulullah menunjukkan kekagumannya mengingat suku Ghifar selama ini terkenal sebagai perampok yang ditakuti.

“Ya, Rasulullah… apa yang harus aku lakukan?”

“Kembalilah engkau pada kaummu sampai ada perintah dariku”

Saat itu Islam masih sedikit. Hingga dakwah pun masih di­lakukan secara sembunyi. “Ya Rasulullah, aku tidak akan kem­bali ke Ghifar sebelum meneriakkan keimananku di Ka’bah.”

Lalu terjadilah peristiwa di mana Abu Dzar mendapat pu­kulan dan tendangan sampai pingsan. Melihat sahabatnya menderita, Rasulullah terlihat sedih, “Bukankah aku sudah memintamu untuk kembali pada kaummu dan menunggu pe­rintahku, wahai Abu Dzar?”

Karena keberaniannya esoknya kembali Abu Dzar meng­hina berhala-berhala di depan dua orang wanita musyrik Mekkah. Merasa takut dengan teriakan Abu Dzar, dua wanita itu malah berteriak minta tolong. Orang-orang pun berdatang­an dan kembali memukuli Abu Dzar sampai pingsan.

Rasulullah yang memahami sifat dan karakter Abu Dzar kembali memberi perintah untuk pulang ke kaumnya. “Kelak, saat engkau mendengar Islam sudah muncul dan tidak sembu­nyi lagi, saat itulah engkau tunjukkan peran terhebatmu.”

Kali ini Abu Dzar menuruti perintah Rasulullah. Kembali ke Bani Ghifar dengan semangat berdakwah yang tinggi. Sesam­painya di kampung halaman, dia mendakwahkan Islam ke­pada keluarganya. Dia mengajarkan tentang keimanan pada Allah semata serta membimbing dengan akhlak muIia. Subhanallah, keluarganya menerima bahkan kaumnya juga, satu persatu mereka masuk Islam dan merubah hidup dari suku pe­rampok menjadi suku yang beriman. Tak puas hanya sukunya saja, Abu Dzar pun berdakwah ke suku Aslam dan Alhamdulil­lah dakwahnya diterima dengan baik.

Waktu bergerak begitu cepat. Rasulullah yang sudah ber­hijrah dan tinggal di Madinah. Suatu hari, di luar Madinah ter­lihat debu yang mengepul layaknya ada tentara yang akan me­nyerang kota. Jika tidak mendengar iringan suara takbir pasti saat itu banyak yang mengira musuh yang datang. Ternyata, mereka adalah rombongan besar dari suku Ghifar dan Aslam. Mereka adalah laki-laki, perempuan, tua, muda yang semua sudah beriman. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki pem­berani bernama Abu Dzar.

Rasulullah menyambut mereka dengan penuh haru dan ka­sih sayang, “Allah memberikan ampunan untuk kabilah Ghifar,” lalu pandangan beliau beralih ke kaum Aslam, Allah membe­rikan keselamatan pada kabilah Aslam.“

Waktu kembali bergerak dengan cepat. Kini genderang pe­rang kembali ditabuh. Rasulullah menyerukan untuk berjihad melawan kekuasaan kerajaan Romawi yang terus mengham­bat perkembangan Islam. Bahkan ada kabar, Romawi mengi­rim pasukan besar ke Tabuk untuk menghancurkan Islam.

Waktu itu kondisi Madinah sangat panas karena sudah mendekati bulan Ramadhan. Kebun-kebun milik kaum musli­min juga mulai memasuki musim panen. Kondisi inilah yang membuat beberapa sahabat meminta izin untuk tidak ikut berperang.

Sementara Abu Dzar memandang sebaliknya. Dia melihat inilah kesempatan emas berjuang bersama Rasulullah. Maka dia segera menyiapkan perbekalan yang dia punya. Keledai, senjata, makanan, minuman yang kira-kira cukup untuk men­capai Tabuk.

Perjalanan yang sulit, dan panas yang terik membuat bebe­rapa orang tertinggal. Ada yang bermasalah dengan kesehat­annya, ada juga yang lemah karena faktor usia. Hingga teriak­an seperti ini sering terdengar selama perjalanan,”Ya Rasulul­lah.., si fulan tertinggal”

“Biarkanlah..! selama dia membawa manfaat, Allah pasti akan membawanya bergabung dengan kita. Jika tidak, maka Allah sudah meringankan beban kita.”

Abu Dzar pun mengalami masalah dengan hewan tung­gangannya. Keledai itu cedera dan tidak bisa berjalan cepat hingga membuatnya tertinggal. Menyadari hal itu maka Abu Dzar segera mengambil perbekalan dari keledai. Lalu berjalan kaki mengejar pasukan Rasulullah dengan menggendong per bekalannya, Subhanallah.

Abu Dzar berjalan kaki sendirian di tengah gurun yang sa ngat terik. Dia terus berjalan dengan langkah-langkah cepat hingga membuat debu bergerak di sekitarnya. Malam pun tiba, Abu Dzar terus berjalan dengan harapan dapat mengejar pasukan Rasulullah.

Menjelang pagi, tiba-tiba seorang pasukan paling belakang berteriak ke arah Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ada laki-laki yang berjalan sendirian ke arah sini.”

“Semoga itu Abu Dzar.” Ujar Rasulullah.

Pasukan pun beristirahat sambil menunggu si pejalan kaki. Alangkah kagumnya berpasang-pasang mata saat melihat wa­jah Abu Dzar yang berdebu tapi penuh kegembiraan. Dia gem­bira karena masih bisa menyusul Rasulullah. “Demi Allah, dia Abu Dzar ya Rasulullah…!”

Rasulullah terlihat gembira melihat kedatangan Abu Dzar, “Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Dia berja­lan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.”

Ternyata kata-kata Rasulullah terbukti benar. Karena Abu Dzar memang tipikal orang yang jujur dan tidak bisa kompro­mi dengan kesewenang-wenangan. Karena setelah berlalunya masa kenabian dan dua khalifah mulia (Abu Bakar ra., dan Umar bin Khattab r.a), kehidupan umat Islam mulai berubah. Mereka mulai cinta dunia. Bahkan para pemimpinnya mem­bangun istana-istana, hidup mewah dengan harta rampasan perang.

Rasulullah sampai memberi pesan khusus mengingat sifat jujur dan zuhud yang dimiliki Abu Dzar. Simaklah percakapan ini.

“Abu Dzar, apa yang akan kamu perbuat jika kamu hidup di bawah pemerintahan yang para pemimpinnya menguasai harta rampasan perang untuk kepentingan mereka sendiri?” Tanya Rasulullah suatu hari.

Abu Dzar menjawab tanpa berpikir lama, ‘Demi Dzat yang sudah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan mene­bas mereka dengan pedangku.”

Rasulullah menggeleng. Dia tidak ingin keberanian Abu Dzar Al-Ghifari digunakan untuk memerangi sesama kaum muslimin. “Jangan lakukan itu. Maukah kuberitahukan yang lebih baik? Bersabarlah hingga kamu berjumpa denganku.”

Rasulullah hafal sekali dengan sifat Abu Dzar Al-Ghifari yang tidak bisa melihat kebohongan. Jiwanya penuh kejujuran. Apa yang ada di hatinya dan apa yang keluar dari mulutnya sama. Dan Rasulullah menganjurkan agar Abu Dzar memberikan nasihat saat melihat kemungkaran di tengah-tengah kaum muslimin. Bukan dengan jalan kekerasan apalagi sampai angkat senjata.

Berdialog, saling menasihati itulah yang dilakukan oleh Abu Dzar bahkan pada sosok khalifah seperti Ustman bin Affan ra., Abu Dzar memang tidak mau diberi jabatan. Dia juga tidak memiliki kecintaan pada harta benda. Dia hanya ingin hi­dup melaksanakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, hidup sederhana penuh kejujuran.

Islam terus berkembang. Wilayah kekhalifahan pun makin luas. Emas, perak, dan pundi-pundi uang seperti dikeluarkan oleh Allah dari perut bumi. Saat itu penyakit cinta dunia su­dah mulai menjangkiti umat Islam. Abu Dzar melihat semua perkembangan itu dengan sedih. Ketika usaha dialognya dikeluhkan beberapa pejabat, seperti gubernur dan walikota. Abu Dzar Al-Ghifari pun memilih menyingkir ke Rabdzah.

Di Rabdzah lah sosok mulia Abu Dzar Al-Ghifari mengembuskan na­pas terakhirnya dalam kesederhanaan. Sungguh, dia tidak per­nah tergoda oleh jabatan dan harta. Dengan lantang dia me­nolak, “Aku tidak membutuhkan harta kalian”.

Download Dakwah KamiKamu di Google Playstore